Peran Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) dalam menciptakan iklim ruang digital yang nyaman bagi masyarakat Kabupaten Blora menjadi tema penting yang diusung Badan Kestuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) saat menggelar sarasehan di resto D’joglo, Blora, Selasa (28/10/2025).
Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Blora, Sujianto SE.M.M., kegiatan sarasehan ini selain bisa dimanfatkan sebagai wahana silaturahmi dan sambung rasa untuk memperoleh masukan, ide cerdas dan kritik yang membangun dari para wredatama juga bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas ormas PWRI agar bisa berpartisipasi aktif dan berkontribusi positif dalam sesarengan mbangun Blora maju, unggul dan berkelanjutan di era digitalisasi.
“Dipilihnya tema tersebut agar para purna tugas yang bergabung dalam wadah PWRI dapat memahami dan mengetahui secara dini tentang pengaruh dampak positif dan negatif terhadap penerapan tranformasi digitalisasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.PWRI sebagai organisasi yang anggotanya para tokoh masyarakat,” kata Kepala Badan Kesbangpol Blora Sujianto.
Ia menyampaikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Agung dan ucapan terima kasih atas kehadiran para senior yang merupakan bapak/ibu, yang bisa jadi motivator, panutan dan penasehat dalam kegiatan melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat.
“Tentu saja senior yang memiliki pengalaman baik dalam pembangunan maupun bidang pelayanan masyarakat, diharapkan dapat menjadi penggerak literasi digital yang menebarkan nilai-nilai kebangsaan,” tandasnya.
Termasuk, pengamalan nilai luhur yang terkandung dalam butir-butir Pancasila, membangkitkan semangat toleransi dan guyub rukun dalam pergaulan di masyarakat serta menjadi penyejuk di tengah derasnya arus informasi yang sangat beragam.
Utamanya saat ini membanjirnya dugaan berita hoaks dan fitnah serta upaya memecah belah persatuan dan kesatuan umat bangsa Indonesia.
Ia mengingatkan kepada para wredatama agar dalam membangun budaya digital hendaknya harus memiliki kecakapan, beretika, bijak dan santun.
Ketua PWRI Kabupaten Blora Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mengucapkan terima kasih atas perhatian, dukungan dan bantuan dari Kepala Badan Kesbangpol yang selalu memberi kesempatan dalam upaya meningkatkan kapasitas ormas PWRI khusus dalam peningkatkan sumber daya manusia.
Apalagi dalam sarasehan tersebut juga dihadirkan musik hiburan solo urgen dengan penyanyi bening yang mampu mendedangkan lagu lagu nostalgia dan masa kini.
Di antaranya lagu yang dipopulerkan oleh Christine Panjaitan. Judul lagunya Katakan Sejujurnya dan lagu Nemen karya dari Gilga Sahid. Suasanapun jadi gayeng dan menghibur bisa melupakan beban kehidupan sejenak.
“Kegiatan sarasehan semacam ini sangat bermanfaat sekali bagi para generasi lansia. Karena berdasarkan informasi dari berbagai media massa lebih dari 70% para lansia banyak mempercayai bahwa berita hoaks itu sebuah kebenaran,” tegas mantan Sekda Blora.
Ia menyebut, kalau pakai bahasa pergaulan sekarang ini fitnah itu lebih nyata dari kenyataan. Ada ungkapan kebenaran saat ini adalah persepsi dan framing bukan fakta atau realita.
Kemudian, yang bisa dilakukan untuk menghadapi situasi saat ini adalah ;
Pertama, berpikir kritis dengan belajar untuk mempertanyakan informasi yang diterima meskipun banyak orang menyakininya.
Kedua, membedakan fakta dan opini, kalau fakta dapat diuji dan diverifikasi sedang opini adalah interpretasi pribadi.
Ketiga, memeriksa sumber informasi untuk memastikan kebenaran informasi melaluhi sumber yang kredibel dan terverifikasi.
Keempat, menghindari framing yang mungkin digunakan untuk memanipulasi emosi dan pandangan.
Ikhtiar untuk mendeteksi dini apakah sebuah berita itu merupakan berita hoaks atau berita kebenaran dengan menggunakan metode ABCD (A : Amati judul dan pesan berita, B: Baca utuh isinya ,C: Cek faktanya dan D : Diskusikan isinya dengan pihak berkompeten).
“Dalam kegiatan sarasehan saya sampaikan upaya menciptakan hidup bahagia dan sehat di usia senja, yaitu dengan lima ikhtiar,” tuturnya.
Adapun lima ikhtiar yang dimaksud adalah, mengamalkan pola hidup sehat dengan mengendalikan pola makan, pola olah raga, pola tidur, pengendalian diri dan hindari kebiasaan buruk. Mandiri dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Aktif melaksanakan silaturahmi. Belajar dan berjuang menjadi orang bermanfaat. Rajin beribadah dan bersedekah kepada orang yang kurang beruntung.
Kegiatan sarasehan diakhiri pencerahan untuk menghindari pikun oleh H. Soedadyo,SH dan tepuk tangan lansia A5 (Awak Sehat, Ati Seneng, Awet Urip, Ana Gunane dan Ajek ibadahnya).***

