Mudik selama ini identik dengan tradisi khas Indonesia dan Malaysia. Momen berbondong-bondong pulang ke kampung halaman setelah sebulan berpuasa demi sujud di kaki orang tua adalah pemandangan yang menyentuh hati.
Namun, di Desa Sumberejo, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, tradisi ini terasa lebih istimewa tahun ini.
Bukan sekadar perantau dari Jakarta atau Surabaya, seorang pria asal Perth, Australia Barat bernama Aaron, suami dari Mbak Ipin turut merasakan syahdunya suasana lebaran di pelosok desa.
Demi mendampingi sang istri yang asli kelahiran Sumberejo, Aaron rela menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk merayakan Idulfitri bersama mertuanya, Mbah Bati.
Saat ditemui di sela kegiatannya, Aaron tampak sangat menikmati suasana desa.
Meski ada keterbatasan bahasa, keramahan warga lokal tetap terasa hangat.
“Bolehkah saya mewawancarai Anda?
(May I interview you?)” tanya Gundala Wejasena, salah satu tokoh masyarakat setempat dalam bahasa Inggris dengan logat Jawa yang kental, Selasa (24/3/2026).
“Oh, silakan, (Oh please)” jawab Aaron dengan ramah.
Ia pun tak keberatan ketika saya meminta izin untuk mengabadikan momen tersebut dalam sebuah video singkat untuk diunggah ke media sosial.
Aaron bercerita bahwa mudik ke Blora sudah menjadi bagian dari rencana tahunannya.
Kehadirannya bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud bakti dan kasih sayang kepada orang tua sang istri (Mbak Ipin).
Setelah menghabiskan waktu di desa, rencananya hari ini ia akan bertolak menuju Surabaya untuk melanjutkan penerbangan kembali ke Australia.
“Kapan kembali lagi ke Sumberejo?” tanya Gundala penasaran.
“Tahun depan, saat Idulfitri,” jawabnya mantap sambil tersenyum.
Bagi warga setempat, pemandangan ini menjadi bukti bahwa Lebaran memiliki daya tarik magis yang universal.
Pada akhirnya, Lebaran memang bukan soal kiriman uang atau hantaran mewah.
Bagi orang tua seperti Mbah Bati, kehadiran anak dan menantu—dari manapun mereka berasal—adalah kebahagiaan sejati yang tak ternilai harganya.
“Sampai jumpa lagi, (See you letter),” seru Aaron saat berpamitan.
“Sampai jumpa,” jawab Gundala, melepas kepergian sang ‘bule mudik’ yang kini telah menganggap Randublatung sebagai rumah keduanya.
Gundala Wejasena menambahkan, intinya adalah bahwa mudik itu sesuatu yang sangat berharga bagi orang tua yang mempunyai anak di rantau.
Bahwa orang tua manapun akan sedih apabila anaknya tidak pulang sekalipun ia dikirimi uang berjuta-juta.
“Orang tua akan tetap menangis di dalam kamar sendirian melihat para tetangganya banyak mobil parkir dari anak-anak mereka yang ada di jauh. Nah Mbak Ipin ini walaupun rumahnya di Australia ia selalu menyempatkan diri pulang menjenguk ibunya di setiap hari raya Idulfitri bersama suaminya,” ujarnya. (Tim Kontributor).

