Blora – Jembatan penghubung antara Randublatung dan Menden, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, mengalami longsor pada bagian sisi jembatan. Kerusakan tersebut diduga kuat akibat intensitas lalu lintas kendaraan berat berupa trailer pengangkut peralatan milik Pertamina dalam dua hari terakhir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada Kamis (26/03/2026) sebanyak lima unit trailer melintas di jalur tersebut. Kemudian pada Jumat (27/03/2026), tercatat tiga unit trailer kembali melintas. Kendaraan-kendaraan tersebut merupakan trailer bersumbu lebih dari tiga dengan kapasitas muatan diperkirakan melebihi 50 ton.
Rencananya, pengiriman peralatan pengeboran milik Pertamina EP ini akan terus berlanjut untuk mendukung kegiatan eksplorasi di Blok Darajingga, Desa Menden, Kecamatan Kradenan. Bahkan, total sekitar 60 unit trailer dijadwalkan akan melintas melalui jalur tersebut sejak Kamis lalu.
Sebelumnya, sekitar 140 unit trailer pengangkut peralatan telah lebih dulu didatangkan melalui jalur Jembatan TBB. Namun, akibat adanya pembatasan portal, arus kendaraan berat dialihkan melalui jalur Randublatung–Menden.
Padahal, kondisi jembatan yang ada saat ini hanya memiliki kapasitas maksimal sekitar 15 hingga 20 ton, sesuai dengan kelas jalan kabupaten. Ketidaksesuaian antara kapasitas jalan dan beban kendaraan inilah yang diduga menjadi penyebab utama terjadinya longsor pada sisi jembatan.
Sejumlah koordinator mobilisasi dan demobilisasi (mob-demob) yang dipercaya pihak Pertamina, yakni Nd, Kd, Ok, dan Wy disebut belum mengambil tindakan konkret terkait kerusakan jembatan tersebut.
Sebagai upaya penguatan, pihak Pertamina telah melakukan penambahan bantalan pada jembatan di ruas jalan Randublatung–Menden. Namun, langkah tersebut justru menimbulkan keluhan dari masyarakat. Perbedaan ketinggian antara bantalan jembatan dan badan jalan dinilai mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, khususnya kendaraan sedan dan sepeda motor.
Warga sekitar mulai menyuarakan keberatan atas penggunaan jalur tersebut oleh kendaraan berat. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi aksi protes apabila aktivitas trailer terus berlanjut tanpa adanya penanganan serius terhadap dampak yang ditimbulkan.
Meski demikian, diketahui bahwa setiap perjalanan trailer tersebut mendapat pengawalan dari pihak kepolisian.
Masyarakat berharap adanya perhatian dan tindakan cepat dari pihak terkait guna mencegah kerusakan yang lebih parah serta menjamin keselamatan pengguna jalan di wilayah tersebut.(RED-HB).

