Bakat adalah hadiah terindah dari Tuhan yang telah diberikan kepada anak. Senyum saat mengeksplorasi bakat adalah kebahagiaan terbesar.
Itu ungkapan yang mengemuka bagi Maya Agusfinetdha Ais Syofiana (18), siswi SMKN 2 Blora Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis.
Maya, sapaanya, mengisahkan pengalamannya di dunia tarik suara di panggung hiburan, hingga hidupnya selalu terasa punya irama.
“Sejak kelas 3 SD, hidupku selalu terasa punya irama. Waktu itu, aku pertama kali diminta guru untuk maju ke depan kelas untuk bernyanyi. Awalnya kakiku gemetar, tanganku dingin, tapi entah dari mana, ada keberanian kecil yang muncul, seperti bisikan halus yang berkata, Coba saja, kamu pasti bisa,” ungkapnya, di Blora Senin (17/11/2025)
Saat lagu itu mulai, semua rasa takutnya hilang. Suaranya, mungkin belum sepreti sekarang, saat usinya memasuki remaja.
“Tapi, di siang itu aku tahu satu hal, aku mencintai panggung,” ucapnya sambil tersenyum.
Sejak saat itu, Maya tidak pernah jauh dari musik. Setiap ada lomba menyanyi, ia ingin ikut. Bukan semata ingin menang, tapi karena rasa bahagia setiap kali berdiri di bawah lampu, memegang mikrofon, dan melihat wajah orang-orang yang mendengarkan.
“Ada kehangatan dan kebahagiaan yang tak bisa digantikan,” kata Maya.
Saat beranjak remaja, Maya mulai mengenal dunia seni yang lain yaitu seni ketoprak. Awalnya, ia hanya menonton sambil terkagum-kagum melihat para pemain memakai kostum sejumlah tokoh dan bermain peran, berbicara dengan gaya khas.
“Namun lama kelamaan, aku ikut latihan, lalu ikut pentas. Lewat seni ketoprak, aku belajar bahwa panggung tidak hanya soal suara, tapi juga gerak, ekspresi, dan cerita yang kita sampaikan,” kata dia. .
Dari lomba ke lomba, dari panggung kecil ke panggung berikutnya, Maya tumbuh bersama seni. Kadang kalah, kadang menang, tapi setiap pengalaman menambah satu lapisan baru dalam dirinya. Yakni, keberanian, percaya diri, dan rasa cinta pada apa yang dilakukan.
Kini, ketika aku sudah remaja, Maya sadar bahwa perjalanan ini belum selesai. Suara yang dulu bergetar waktu kelas 3 SD itu kini menjadi lebih kuat, lebih yakin.
“Seni ketoprak dan lomba-lomba yang saya ikuti membuat diriku mengenal banyak orang dan memahami bahwa seni adalah jalan yang selalu mengajakku untuk terus berkembang,” ucapnya.
Dan Maya masih berjalan di jalan itu, jalan yang penuh musik, panggung, dan cerita, dengan hati yang semakin berani, seperti pertama kali waktu menyanyi di depan kelas dulu.
Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari lingkungan maupun orang terdekat agar tetap semangat mengemangkan bakatnya.
Maya, kini menempuh Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Dinkominfo Blora, mulai 10 november 2025 hingga 6 Maret 2026.(RED-HB).

