Warga Tumplek Bleg, Manganan Janjang Jadi Warisan Budaya Indonesia

BLORA – Ada yang istimewa di Manganan Janjang yang digelar warga masyarakat Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, di kompleks Makam dan Tapaan Mbah Janjang (Jatikusuma, Jatiswara), Jumat (27/3/2026).

Yakni dua sertifikat diserahkan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman yang datang langsung di tradisi manganan itu, dengan didampingi Ketua TP PKK, Wakil Bupati, Hj. Sri Setyorini, dan jajaran Forkopimda,

Dua sertifikat yang diserahkan itu, masing-masing sertifikat dan piagam dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, nomor 169/WB/KB.00.01/2025, dimana berisi penetapan Manganan Janjang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Bersamaan itu, juga dilakukan penyerahan Surat Keputusan Bupati Blora nomor 400.6/487/2025 tanggal 19 Desember 2025 yang menetapkan Desa Janjang sebagai Desa Budaya di Kabupaten Blora.

“Semoga penyerahan Sertifikat Pak Menteri Kebudayaan tentang penetapan Manganan Janjang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, dan SK Bupati tentang penetapan Desa Budaya untuk Janjang, bisa semakin mengukuhkan Desa Janjang sebagai pusat pelestarian budaya di Kabupaten Blora. Ini sudah paten dan harus terus kita lestarikan Manganan Janjang ini. Selain menjadi daya tarik wisata religi, juga bisa menjadi pendorong bangkitnya perekonomian desa,” ucap Bupati.

Di manganan Janjang kali ini, tampak ribuan warga dari berbagai daerah, sejak pagi silih berganti berjalan kaki menaiki anak tangga komplek makam gedong, untuk bersedekah mengirimkan makanan berupa ambeng ingkung ayam atau nasi berkat.

Makanan itu dibagikan secara gratis kepada seluruh pengunjung usai berziarah ke makam Mbah Janjang. Oleh karena itu dinamakan “Manganan”, saling berbagi makan makan gratis sebagai bentuk syukur atas hasil bumi satu tahun terakhir.

Pihak desa atau Pemerintah Desa juga menyembelih hewan seperti sapi dan kambing di komplek makam tersebut. Yang kemudian dagingnya dimasak bersama sama dan dibagikan secara gratis kepada seluruh pengunjung atau peziarah.

Uniknya, semua nasi dan bumbu yang dibagikan dibungkus dengan daun jati sesuai antrian kedatangan peziarah. Pihak panitia menyediakan ribuan daun jati untuk peziarah. Masing-masing mengambil daun jati itu untuk dasar antrian pembagian nasi berkat dari panitia. Yang dibuka di gazebo utara makam utama.

Selama acara berlangsung, juga diramaikan dengan pertunjukan kesenian wayang krucil khas Janjang. Yang merupakan peninggalan Mbah Jatikusumo Jatiswara. Potret budaya lokal yang terus dilestarikan sebagai pengiring acara Manganan Janjang.

Sumirah (56) warga Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku sering datang ke acara Manganan Janjang ini bersama suami dan anak anaknya.

“Sudah enam kali saya ikut Manganan di Janjang ini. Awalnya dulu pengen ziarah sekaligus cari nasi berkat yang dibungkus daun jati rasanya sedap mas. Namun belakangan ini saya ikut menyerahkan ambeng ingkung untuk dibagikan bersama. Idep-idep ikut bersedekah untuk sesama. Acaranya bagus kok, semuanya kelihatan guyub rukun,” ungkap Sumirah.

Sementara itu, Adit (25) warga Rembang Jawa Tengah, juga mengaku senang bisa hadir langsung ke acara Manganan Janjang. Dirinya mengaku baru sekali ini ikut acara Manganan Janjang.

“Tadinya penasaran karena diceritain saudara. Nah kebetulan ini tadi pas main ke Blora sekalian saja ke Janjang. Bagus sih tradisinya masih kuat. Meskipun letaknya pelosok, ternyata pengunjungnya ribuan dari berbagai daerah. Jalannya juga sudah bagus, suasananya seger adem di komplek sini. Betah rasanya,” ungkap Adit.

Bupati Arief bersama Wakil Bupati, Ketua TP PKK dan jajaran Forkopimda, ikut berbaur bersama warga masyarakat.

Dia datang dengan menaiki vespa bersama rombongan, Bupati turun di rumah Kepala Desa, kemudian sholat Jumat di Masjid Al Kautsar, baru lanjut jalan kaki ke komplek Makam Mbah Janjang.

Dari pertigaan depan hingga makam utama yang berjarak 300 meter, Bupati melihat langsung ada ratusan pedagang makanan, minuman, pakaian, jajanan hingga mainan anak ikut ngalap rezeki dari para peziarah. Halaman rumah rumah warga hingga halaman sekolah penuh menjadi tempat parkir dadakan selama event tahunan ini.

“Luar biasa Manganan Janjang ini. Menjadi tradisi budaya sedekah bumi yang paling ramai, paling banyak pengunjungnya di Kabupaten Blora. Potensinya bagus untuk menggerakkan ekonomi desa. Semoga kedepan bisa ditata lebih baik oleh Pak Kades Janjang. Ini wujud kerukunan, kebersamaan dan potret semangat berbagi untuk sesama. Sekaligus bentuk kekompakan warga masyarakat desa untuk bersama sama berdoa untuk keselamatan desa Janjang, dan Kabupaten Blora. Apalagi akses jalan dari Cabak ke Janjang sudah selesai dibangun, jadi lebih nyaman kesini,” ucap Bupati Arief.

Sementara itu, Kepala Desa Janjang, Ngasi, menyatakan bersyukur menyusul gelaran Manganan Janjang tahun ini berjalan lebih ramai dibandingkan tahun lalu.

“Alhamdulillah tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun lalu. Tidak hanya warga Blora saja yang hadir. Ada dari Jawa Timur bahkan Jawa Barat. Manganan ini diselenggarakan setiap Jumat Pon setelah Lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Terimakasih juga atas hadirnya Pak Bupati dan rombongan. Semoga membawa keberkahan untuk desa kami. Cuacanya juga cerah, tidak hujan, semoga desa kami jauh dari pagebluk,” ungkap Ngasi.

Terpisah, Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini menuturkan bahwa dirinya baru kali ini ikut acara Manganan Janjang.

“Sering beberapa kali ke Janjang. Tapi acaranya lain. Kalau untuk Manganan Janjang baru kali ini. Ternyata ramai sekali. Potensinya luar biasa. Tadi saya juga dapat berkat bungkus daun jati rasanya enak khas ndeso ngangeni. Tahun depan pasti akan kesini lagi. Keren Janjang,” ucap Wakil Bupati yang akrab dipanggil Budhe Rini. (RED-HB).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *