YOGYAKARTA – Nuansa penuh kekeluargaan, kerinduan, dan kebahagiaan menyelimuti acara Reuni Emas 50 Tahun (1976–2026) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1976.
Agenda bersejarah ini digelar selama tiga hari, mulai Selasa (22/9/2026) hingga Kamis (24/9/2026), bertempat di Hotel Narasena, Jl. Demangan Baru No. 8, Yogyakarta.
Acara ini dihadiri oleh 73 alumni dari berbagai latar belakang profesi dan domisili, mulai dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Selatan, Lampung, Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Meski terpisah jarak, ingatan masa lalu kembali hadir dan mencairkan suasana.
Malam Keakraban yang Menyentuh Hati
Rangkaian acara dimulai pada hari pertama dengan menggelar malam keakraban dari hati ke hati.
Dipandu oleh pasangan MC profesional ternama, Darir dan Untari, suasana malam kian syahdu dengan iringan musik solo organ serta penampilan penyanyi bersuara bening.
Ketua Panitia Reuni Emas sekaligus Ketua Alumni Fakultas Pertanian UGM Angkatan 1976, Dr. Ir. H. Bambang Edy Saputra, M.P., memberikan sambutan tunggal.
Pria yang akrab disapa “Geyol” ini mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas terselenggaranya reuni emas ini. Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para sahabat seperjuangan.
“Meskipun kita semua berangkat dengan semangat swadaya dan kondisi kesehatan yang tidak seideal dulu lagi, antusiasme untuk saling bertemu sangat luar biasa,” ujar Bambang.
Ia juga menyadari banyaknya kendala kesibukan selama proses persiapan.
Oleh karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf jika terdapat kekurangan selama pelaksanaan acara. Bambang mengajak seluruh alumni untuk mensyukuri kesempatan langka ini, menghibur diri, serta sejenak melepas segala duka dan beban kehidupan.
Haru Doa Bersama untuk Sahabat yang Telah Tiada
Suasana yang semula riang sempat berubah sendu saat panitia menampilkan visualisasi 35 foto mendiang sahabat Angkatan 1976 yang telah berpulang ke hadirat Sang Pencipta.
Doa bersama pun dipanjatkan secara khidmat dipandu oleh Ir. Muhtarom, M.Sc., salah satu ustaz dari angkatan tersebut.
Derai air mata tak terbendung dari para peserta yang mengenang kebaikan para sahabat yang kini telah damai di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Setelah momen penuh haru, suasana kembali ceria dengan penampilan empat grup peserta yang hadir mengenakan beragam kostum unik.
Setiap grup membawakan lagu legendaris lintas zaman, seperti Kembali (Koes Plus), Prau Layar Lan Jantrane Urip (aransemen Ir. H. Hendro Winarno, M.P.), Payung Fantasi (karya Ismail Marzuki), dan Koyo Jogja Istimewa (karya Ndarboy Genk).
Aksi panggung para “selebritas manula” ini sukses menghipnotis suasana menjadi heboh dan penuh gelak tawa.
Keriangan berlanjut saat panitia memberikan kejutan ulang tahun bagi peserta yang berulang bulan tersebut, diiringi lagu “Selamat Hari Ulang Tahun” bersama.
Peserta reuni yang juga penyanyi profesional asal Bali, Ir. Saleh Purwanto, M.P., turut menyumbangkan lagu karyanya sendiri yang menyentuh kalbu. Saat lagu “Siapa Bilang Lansia Tidak Berguna” disenandungkan, para peserta spontan maju untuk berjoget bersama.
Kemeriahan semakin menjadi-jadi berkat kejelian MC.
Peserta yang rutin mengonsumsi 3, 4, hingga 5 pil obat setiap hari diminta mengacungkan jari dan maju ke panggung untuk mendapatkan doorprize.
Kuis Cerdas Cermat dan Akronim “GEYOL”
Acara memasuki sesi cerdas cermat yang dipandu oleh Bambang Sulistya (mantan Sekda Blora).
Ia melemparkan pertanyaan berbasis topik yang sedang hangat di masyarakat: “Apa kepanjangan dari ‘MBG’ yang menyangkut nama pengurus Alumni FP ’76 UGM?”
Suasana menjadi gaduh dengan berbagai tebakan jenaka.
Di luar dugaan, seorang cucu dari mantan dosen UGM (Ir. Nurhandoyo) yang baru berusia 7 tahun menjawab “Makanan Bergizi Gratis”, yang langsung mengundang tawa hadirin dan membuahkan doorprize.
Namun, jawaban yang benar untuk konteks alumni adalah “Mas Bambang Geyol”, panggilan populer sang ketua alumni yang sudah melekat sejak 50 tahun lalu.
Untuk memperjelas arti nama populer tersebut, Bambang Sulistya memaparkan akronim GEYOL sebagai berikut:
G (Ganteng): Tidak hanya rupanya, tetapi juga budi pekertinya.
E (Empatik): Selalu peduli terhadap sesama teman tanpa memandang kasta.
Y (Yahut/Hebat): Siap mengorbankan kepentingan pribadi demi memimpin alumni.
O (Ora Mlete): Tidak sombong, meskipun pintar, memiliki jabatan, dan terpandang.
L (Lomo/Suka Berbagi): Ringan tangan dan gemar bersedekah kepada teman yang sedang kesusahan.
Sebelum malam puncak berakhir, kejutan luar biasa terjadi saat Dr. Ir. Bambang Edy Saputra kembali naik ke panggung. Atas pertimbangan kondisi kesehatan yang membuatnya tidak bisa memberikan pelayanan prima, ia menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan mengundurkan diri sebagai ketua alumni.
Suasana seketika hening dan haru, sebab mayoritas alumni masih menaruh harapan besar agar beliau tetap memimpin.
Nostalgia Kampus Biru dan Makna sebuah Waktu
Pada hari kedua dan ketiga, agenda reuni diisi dengan kunjungan wisata ke berbagai destinasi di Yogyakarta. Salah satu agenda utama adalah mengunjungi “Kampus Biru” UGM untuk mengenang kembali masa-masa kuliah masa lalu. Para alumni juga menikmati wisata kuliner khas mahasiswa zaman dulu.
Kegiatan reuni emas ini membuahkan banyak nilai positif. Selain menyambung silaturahmi dan bernostalgia, acara ini menjadi ajang membangun jaringan baru, wahana evaluasi diri, pereda stres, sekaligus tombo ati (obat hati) agar hidup sehat di usia senja makin bermakna. Seluruh peserta berharap tradisi reuni ini tetap dilestarikan sesuai kondisi ke depan.
Sebagai penutup, Ir. Suyoto, M.P. membagikan ungkapan bijak penuh motivasi:
“Waktu adalah guru yang paling bijak. Ambil jeda untuk merenung, berdialog dengan masa lalu, dan mencurahkan isi hati masa kini. Belajarlah dari setiap pengalaman dan temukan kekuatan di dalam diri untuk terus melangkah maju dengan penuh harapan. Ingatlah bahwa orang hidup harus selalu membawa manfaat bagi sesama.”
(Tim Halo Blora)

