PWRI Blora Gaungkan Paradigma “Wredatama Sehat Tanpa Obat”

BLORA – Pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora masa bakti 2026-2031 menggelar rapat perdana di ruang pertemuan kantor PWRI setempat, Rabu (16/9/2026). Rapat perdana ini mengusung tema yang sangat relevan bagi para lansia, yaitu “Wredatama Sehat Tanpa Obat”.

Sekretaris PWRI Kabupaten Blora, Drs. H. Pujianto Said, M.Si., menjelaskan bahwa PWRI merupakan satu-satunya wadah berhimpunnya para wredatama (pensiunan PNS) untuk terus berjuang dan mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Mantan Sekwan Kabupaten Blora ini menegaskan bahwa organisasi kini harus memiliki paradigma baru.

“Paradigma baru PWRI adalah mewujudkan wredatama yang sehat, bahagia, mandiri, produktif, dan bermanfaat bagi orang lain. Sebagai salah satu ikhtiar nyata, kami menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora untuk memberikan pencerahan mengenai pola hidup sehat kepada para pengurus,” ujar Pujianto.

Sementara itu, Ketua PWRI Kabupaten Blora, Ir. Bambang Sulistya, M.M.A., dalam pengarahannya mengingatkan para anggota untuk lebih bijak menghadapi tantangan zaman saat ini, yang ia istilahkan sebagai zaman Kolobendo (zaman penuh carut-marut).

Bambang mengutip pitutur bijak Jawa yang sarat makna: “Ajining diri soko lati dan ajining rago soko busono”. Ungkapan ini berarti harga diri seseorang tecermin dari perkataannya, sedangkan kehormatan fisiknya dinilai dari pakaian atau penampilan yang dikenakan.

“Saat ini, kita melihat kecenderungan masyarakat yang bersumbu pendek, mudah menghujat, serta menebar fitnah dan berita hoaks. Mari kita lawan kebiasaan buruk seperti suka mengeluh dan bergunjing (gibah). Sebaliknya, mari kita amalkan sesanti PWRI, yaitu ‘Setiap detik berbuat baik dan setiap melangkah untuk beribadah’,” pesan Bambang.

Tujuh Kebiasaan Positif Lansia
Edukasi kesehatan pada pertemuan tersebut disampaikan oleh dr. Farida Laela bersama ahli gizi Dinkesda Blora, Hety. Dalam pemaparannya, dr. Farida mengungkapkan bahwa konsep hidup sehat tanpa obat adalah upaya menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, sehingga tubuh tetap bugar, terhindar dari penyakit, dan tidak bergantung pada obat-obatan kimia.

Sambil bercanda, dr. Farida meluruskan pandangan yang keliru tentang tema tersebut. “Hidup sehat tanpa obat bukan berarti menghentikan obat yang sudah diresepkan dokter. Bagi bapak dan ibu yang memiliki penyakit tertentu, obat dari dokter harus tetap diminum secara rutin sesuai anjuran,” tuturnya diiringi tawa para peserta.

Materi yang disampaikan secara jenaka dan penuh geguyon (candaan) ini sukses memikat perhatian para wredatama. dr. Farida memotivasi para lansia untuk mengamalkan tujuh kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari agar tetap bugar:

  1. Olahraga sebagai Menu Harian : Jadikan olahraga seperti jalan santai, jalan cepat, senam kebugaran, yoga ringan, atau lari santai sebagai kebutuhan hidup. Lakukan minimal 30 menit per hari, sebanyak 5 hari dalam seminggu.
  2. Nutrisi Beragam dan Seimbang : Konsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi. Batasi asupan gula, garam, dan lemak berlebih, serta penuhi kebutuhan air putih 6–8 gelas (1,5–2 liter) per hari.
  3. Tidur Berkualitas : Usahakan tidur yang cukup selama 6–8 jam setiap hari.
  4. Kelola Stres : Selalu berpikir positif (husnuzan) kepada siapa pun demi ketenangan pikiran.
  5. Jaga Berat Badan : Pertahankan berat badan yang ideal dan seimbang.
  6. Hindari Zat Berbahaya: Jauhi rokok dan konsumsi alkohol.
  7. Periksa Kesehatan Rutin: Lakukan kontrol kesehatan secara berkala untuk memantau kondisi tubuh.

Ditutup dengan Puisi “Senja”
Pertemuan perdana yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan pembacaan sebuah puisi menyentuh hati berjudul Senja, yang menggambarkan semangat juang para wredatama di usia lanjut :

Aku memang sudah senja,
Tapi selalu belajar mengendalikan diri dan bertata krama,
Untuk menghadapi zaman Kolobendo yang penuh rekayasa,
Supaya hidup ini damai dan sejahtera.
Aku memang sudah senja,Tapi aku ingin hidup sehat dan bahagia,
Walau saat ini banyak bencana,
Tapi aku makin nekat berderma.
Aku memang sudah senja,
Tapi aku senang membaca,
Supaya aku lebih peka,
Peduli kepada anak bangsa.
Aku memang sudah senja,
Tapi aku berusaha berguna,
Walau usia sudah Wredatama.
Aku memang sudah senja,
Tapi aku selalu berdoa,
Untuk menjaga iman dan takwa,
Agar selamat di dunia dan mati masuk surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *