19 Siswa SD di Blora Diduga Keracunan Usai Santap Makanan Program MBG, Enam Masih Dirawat

BLORA – Sebanyak 19 siswa SD Negeri Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai oleh SPPG Bogowanti, Ngawen, di bawah Yayasan Mitra Cendekia Waskita, Senin.
Para siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan sakit perut sesaat setelah menyantap makanan serta meminum susu kemasan yang dibagikan dalam program tersebut. Seluruh siswa kemudian dilarikan ke Puskesmas Ngawen untuk mendapatkan penanganan medis.
Salah seorang wali murid, Ranti, warga Desa Sendangrejo, mengaku mendapat kabar dari pihak sekolah sekitar pukul 08.00 WIB bahwa anaknya sedang dirawat di Puskesmas Ngawen.
“Saya sedang menunggu di depan sekolah ketika guru mengabarkan anak saya dirawat di puskesmas. Saya langsung panik dan segera menyusul ke sana,” ujarnya.
Ranti mengatakan anaknya yang duduk di bangku kelas V mengeluhkan mual, pusing, sakit perut, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan dan susu kemasan dari Program MBG.
Hal senada disampaikan Aliando, siswa kelas V SD Negeri Sendangrejo. Ia mengatakan menu MBG yang diterimanya terdiri atas nasi, telur gulung, anggur, kacang, dan susu cokelat kemasan.
“Tadi habis upacara kami makan MBG. Setelah makan saya minum susu. Tidak lama kemudian saya merasa pusing, mual, lalu muntah-muntah di kelas,” katanya.
Guru SD Negeri Sendangrejo, Ahmad Fatoni, menjelaskan makanan MBG diterima sekolah sekitar pukul 06.30 WIB dan dibagikan kepada para siswa setelah pelaksanaan upacara bendera.
“Makanan diterima sekitar pukul 06.30 WIB, kemudian kami bagikan kepada anak-anak setelah upacara,” ujarnya.
Menurut Fatoni, dugaan sementara mengarah pada susu kemasan yang dikonsumsi para siswa. Namun, ia menegaskan penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Indikasinya ada di susunya. Mungkin karena cara penyimpanannya atau bagaimana sehingga diduga sudah tidak layak konsumsi,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah langsung menarik seluruh susu kemasan yang belum dikonsumsi siswa untuk diserahkan kepada pihak berwenang sebagai sampel pemeriksaan laboratorium.
“Setelah dicek, susu yang belum diminum langsung ditarik semua dan dibawa ke laboratorium,” ujarnya.
Fatoni memastikan susu tersebut belum melewati masa kedaluwarsa karena masih memiliki masa berlaku hingga tahun 2027.
“Kalau kedaluwarsa tidak, karena masih sampai 2027. Tapi mungkin cara penyimpanannya dari SPPG atau bagaimana, kami juga belum tahu,” katanya.
Ia menyebutkan, dari total 19 siswa yang mengalami keluhan berasal dari kelas III, IV, dan V. Sebagian besar mengalami mual dan sakit perut, sementara sekitar delapan siswa sempat muntah.
“Habis makan anak-anak mulai merasa mual, kemudian langsung dibawa ke puskesmas,” ujarnya.
Fatoni berharap kejadian serupa tidak terulang dan pengawasan terhadap kualitas makanan maupun minuman sebelum didistribusikan kepada siswa diperketat.
“Harapannya diperbaiki lagi dan dicek lebih teliti sebelum dibagikan ke anak-anak. Kasihan anak-anak,” katanya.
Terkait kemungkinan pergantian penyedia dapur MBG, Fatoni mengatakan hal tersebut menjadi salah satu harapan agar pelayanan program dapat berjalan lebih baik ke depan.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngawen, Sri Endarti, mengatakan seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan medis.
“Dari 19 pelajar yang dirawat, 13 orang sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Sementara enam pelajar lainnya masih dalam perawatan petugas,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi para siswa terus diobservasi oleh tim medis. Hingga saat ini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium oleh instansi terkait.(RED-HB).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *